• Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Profil
  • Dokumen
  1. Home
  2. Berita
  3. Melewati Banjir Demi Pekabaran Injil

Melewati Banjir Demi Pekabaran Injil

Share:
310 views
13 February 2025

Tangmentoe, 12 Februari 2025 – Perjalanan menuju pelayanan sering kali diwarnai tantangan yang menguji ketangguhan dan komitmen. Itulah yang dialami oleh Pdt. Laurens Jan Vogelaar saat hendak menjadi pembicara pada Training of Trainers (TOT) Brosur Pekabaran Injil (PI) di Tangmentoe. Perjalanan yang seharusnya lancar berubah menjadi perjuangan penuh ketidakpastian akibat banjir besar di Maros yang melumpuhkan jalur darat.

Pada 11 Februari 2025, Pdt. Laurens Jan Vogelaar—akrab disapa Pdt. Laurens—berangkat dari Makassar dengan bus malam, berharap tiba di Tangmentoe pada pagi hari. Namun, harapan itu pupus ketika bus yang ditumpanginya terjebak kemacetan panjang akibat banjir yang merendam wilayah Maros. Hingga pukul 05.00 WITA keesokan harinya, bus masih tak bisa bergerak. Situasi semakin sulit karena genangan banjir juga meluas hingga Barru dan Parepare, menutup seluruh akses darat menuju Toraja.

Di tengah keterbatasan pilihan, Pdt. Laurens memutuskan untuk turun dari bus dan mencari jalan lain. Setelah mempertimbangkan berbagai opsi, akhirnya ia menemukan penerbangan ke Toraja pada 12 Februari pukul 09.35 WITA. Tanpa ragu, ia memilih jalur udara agar bisa tetap memenuhi tugasnya di Tangmentoe.

Tepat pukul 11.15 WITA, Pdt. Laurens tiba di lokasi kegiatan. Ia ditemani Pnt. Yunus Buana Patiku, Wakil Sekretaris Umum BPS Gereja Toraja yang sama menumpangi pesawat yang sama dari Makassar. Para peserta TOT yang telah menunggu sejak jam 9 pagi tetap antusias menyambut kehadirannya. Meskipun masih lelah setelah perjalanan yang penuh tantangan, semangatnya untuk membagikan materi tidak surut. Dengan penuh energi, ia menyampaikan materi terkait Pekabaran Injil, menyiapkan para fasilitator yang kelak akan turun ke klasis dan jemaat-jemaat untuk mendorong setiap warga gereja melaksanakan misi penginjilan.

Antusiasme peserta begitu tinggi hingga sesi yang seharusnya berakhir pukul 13.00 WITA harus diperpanjang hingga 15.40 WITA. Diskusi berjalan dinamis, banyak peserta yang berinteraksi langsung dengan Pdt. Laurens untuk menggali lebih dalam tentang strategi PI.

Pdt. Laurens diutus oleh GZB Belanda untuk melayani di Komisi Pekabaran Injil Gereja Toraja. Saat ini berjemaat di Gereja Toraja Jemaat Tanjung Marannu, Klasis Makassar. Komitmennya dalam pelayanan terlihat jelas, bahkan di tengah kendala perjalanan yang berat. Kejadian ini bukan sekadar cerita tentang tantangan perjalanan, tetapi juga kisah ketekunan dan dedikasi dalam melayani Tuhan dan gereja-Nya.

Perjuangan Pdt. Laurens untuk tetap hadir di Tangmentoe menjadi pengingat bahwa pekabaran Injil bukan sekadar tugas biasa, tetapi panggilan yang harus dijalani dengan kesungguhan hati, melewati berbagai rintangan dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hamba-Nya. (*/unu)

 

Pewarta : Yunus Buana Patiku

Redaksi 2
Editor : Redaksi 2

Berita Terpopuler

Redaksi 2

70 Peserta Dinyatakan Lulus Tes Calon Proponen Gereja T...

Eltuin

Adakan Pembinaan Pegawai se-Klasis Makassar Tengah, BPK...

Eltuin

MEWUJUDKAN ECCLESIA DOMESTICA (Laporan dari Sidang MPL...


Berita Lainnya

Jumat, 10 Januari 2025

Sekda Tana Toraja Ungkap Perhatian Nyata Pemerintah bagi Disabilitas

Melepas pawai disabilitas dalam rangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional ( HDI ), Sekda Tana Toraja dr. Rudhy Andilolo mengungkapkan sejumlah perhatian serius dan kongkrit pemkab Tana Toraja terhadap disabilitas. Rudhy mengatakan sejak ditetapkannya Perda No. 5/2023 tentang kabupaten Inklusif dan Pelindungan Disabilitas, perhatian dan layanan terhadap para yang berkebutuhan khusus itu kian gencar dilakukan. 

Dr. Rudhy menyampaikan apresiasi khusus kepada Yayasan Eran Sangbure Mayang ( YESMa) melalui program Inklusi kemitraan Indonesia - Australia dalam mendorong kegiatan pemberdayaan dan perhatian bagi disabilitas dan kelompok rentan lainnya. Ia menyebutkan jika para disabilitas di Tana Toraja untuk tidak perlu lagi ragu untuk mengakses berbagai layanan, baik pendidikan, kesehatan serta kebutuhan lainnya dengan mudah, terjangkau, dan setara. Bahkan untuk mengisi formasi CPNS Pemkab Tana Toraja juga telah membuka lowongan dalam penerimaan yang lalu, meski belum ada peminatnya. 

Para disabilitas juga kini telah disiapkan berbagai kemudahan dalam layanan baik administrasi maupun pembangunan. "Tidak ada  diskriminusasi, bully. Tana Toraja sebagai kabupaten inklusi, akan berjuang terhadap hak- hak dan kesetaraan bagi semua. Semua berhak mendapatkan pelayanan dari pemerintah," ungkapnya.

Pawai yang dilepas  di depan panggung kolam Makale  dan berakhir di Gedung Tammuan Mali’ diikuti oleh para disabilitas pelajar SLB dari dua kabupaten, Tana Toraja dan Toraja Utara. 

Peringatan HDI tahun 2024 digagas oleh Ikatan Guru Pendidik Khusus, dengan berbagai kegiatan. Ada sejumlah festival, perlombaan serta pertandingan untuk pembinaan mental, bakat minat serta potensi disabilitas. Juga pelatihan peningkatan kapasitas para pendidiknya. Acara itu juga melibatkan  para lembaga mitra, diantaranya YESMa, orang tua serta pendamping dengan dukung penuh oleh Pemerintah.

Baca juga : Kisah Inspiratif Disabilitas dari Rembon, Yulianti Menembus Keterbatasan untuk Mandiri

 

Pewarta : Fred

Senin, 13 Januari 2025

Di balik tembok RS Elim Rantepao, Pelayanan Lebih dari Sekadar Pengobatan

“Selamat pagi, malapu’-lapu’ sia komi le’ Ambe’?” Pagi itu terdengar suara seorang pegawai menyapa pasien yang terbaring sakit di tempat tidur sedang ditemani keluarga yang menjaga. 

“Ada yang beda beberapa hari ini. Setiap pagi kita disapa oleh pegawai dan didoakan, ini pengalaman yang baru yang kami alami selama dirawat di tempat ini,” ucap salah seorang pasien.

Tahun 2025, Rumah Sakit Elim (RSE) Rantepao memiliki resolusi untuk terus berbenah menjadi lebih baik dalam melayani masyarakat. Memasuki minggu pertama 2025 ada yang baru yang terlihat dari aktivitas pegawai,  setiap pagi Pegawai RS Elim berkeliling masuk ke kamar-kamar pasien untuk berkunjung dan mendoakan mereka. Kegiatan ini dilakukan setiap hari setelah ibadah pagi pegawai. Layanan ini dikoordinir oleh Unit Kerohanian dan Pastoral. Layanan ini diberikan kepada semua pasien, baik pasien yang sedang dirawat inap maupun pasien yang dirawat di UGD, pasien yang rawat jalan di Poliklinik dan pasien yang sedang menunggu obat di Apotek. 

Suasana Doa Bersama di UGD Rumah Sakit Elim Rantepao (sumber : Aldriyanto Hendra)

RS Elim Rantepao adalah rumah sakit yang dianugerahkan Tuhan kepada Gereja Toraja secara khusus dan Masyarakat Toraja secara umum. Rumah Sakit ini merupakan Rumah Sakit tertua di Toraja, tercatat berdiri sejak tahun 1929. Kini pengelolaannya berada di bawah Yayasan Kesehatan Gereja Toraja (YKGT). 

“Kami terus berupaya berbenah, memberi layanan terbaik bagi seluruh masyarakat. Salah satu upaya yang kami lakukan tahun ini melalui unit Kerohanian dan Pastoral yakni mengoptimalkan layanan kunjungan doa yang dilakukan setiap hari dan pembacaan renungan yang dapat didengarkan di kamar pasien setiap malam hari. Layanan ini sebenarnya bukan baru pertama kali, tetapi upaya ini merupakan peningkatan dari layanan sebelumnya yang hanya menyentuh pasien yang baru rawat inap di RS Elim Rantepao,” ungkap dr. Adrian Benedict Wijaya selaku Direktur RS Elim Rantepao.

“Semoga tetap kuat, Bapak/Ibu. Tetap sabar dan lekas sehat, Tuhan pasti menolong kita, Salama’!” Seorang pegawai mengakhiri kunjungan doa di kamar pasien.

 

Pewarta : Aldriyanto Hendra

Jumat, 07 Maret 2025

Yonatan S. Rompon Dinobatkan sebagai Pemenang Sayembara Logo SSA XXVI Gereja Tor...

Acara Launching Logo SSA XXVI Gereja Toraja yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Alpius Pasulu', M.Th., selaku sekretaris panitia pengarah yang disiarkan melalui Kanal Youtube TS Channel pada 3 Maret 2025, menobatkan Yonatan S. Rompon dari Jemaat  Pa'besenan sebagai pemenang Sayembara Logo SSA XXVI Gereja Toraja. Sayembara yang dibuka sejak Desember 2024 diikuti oleh 12 peserta. Berikut daftar nama peserta sebagai berikut :

  • Ade Yuna Tonda, 
  • Andarias Ilang, 
  • Andrew Pradhana Pangala, 
  • Christien Lin Seleng,
  • Imanuel Tandi Soma, 
  • Ino Putri Ardania, 
  • Jepri Reskita Friber, 
  • Marnolinus Ledon, 
  • Sem P. Andilolo, 
  • Verdi 
  • Widya Juniarty, 
  • Yonatan S. Rompon, 
SSA XXVI Gereja Toraja

Berikut makna logo SSA XXVI Gereja Toraja :

FragmenMakna
Burung merpati dapat diberi makna sebagai simbol Roh Kudus, Roh yang menyertai perjalanan hidup dan pelayanan orang percaya dan warna hijau pada simbol burung merpati melambangkan kehidupan dan pertumbuhan orang percaya tetap dalam kasih Allah dan lindungan Roh Kudus.
Salib berwarna merah bermakna pengorbanan Kristus yang menebus dosa dan tanda kasih Allah yang paling besar. Warna merah juga melambangkan keteguhan dan kekuatan orang percaya dalam memberitakan keselamatan di dalam Kristus.
Payung (Payung Ri Luwu) dan siluet Istana Luwu sebagai simbol yang identik dengan masyarakat Luwu melambangkan tempatpelaksanaan SSA XXVI yaitu di Tana luwu.
Tulisan SSA XXVI yang menggunakan huruf menyerupai aksara Lontara yang sangatterkenal sebagai salah satu kearifan lokal daerah Tana Luwu. Warna ungu pada tulisan  memiliki arti kedaulatan, pertobatan, keagungan, kesederhanaan, dan kerendahan hati.

Gelombang dengan dua warna menggambarkan dinamika kehidupan warga gereja dalam sepanjang sejarah perjalanan Gereja Toraja. Warna hijau melambangkan kehidupan, ketenangan,  pertumbuhan Iman dan warna pengharapan. Hijau juga bermkana kemurahan hati, keselamatan dari Allah yang menyembuhkan dan memperbaharui.

Tulisan Tana Luwu – 2026 menandakan tempat dan tahun pelaksanaan SSA XXVI Gereja Toraja.

 

Adapun SSA Sidang Sinode XXVI akan dilaksakan pada tahun 2026, di wilayah 1 Tana Luwu.

Video LAUNCHING LOGO SSA XXVI GEREJA TORAJA 2026

Rabu, 26 Maret 2025

Ketua Umum Panitia HUT ke-78 Gereja Toraja, William P. Sabandar: Hutan Toraja Me...

Pelaksanaan Ibadah Raya I sebagai rangkaian pembukaan perayaan Ulang Tahun ke-78 Gereja Toraja tahun 2025 berlangsung di Hutan Buntu Talling, Mengkendek, Tana Toraja. Ibadah raya dipimpin oleh Pdt. Robert Patannang Borrong, PhD, Ketua Majelis Pertimbangan Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB). Bertolak dari bacaan Mazmur 104:30, pendeta Robert yang juga seorang penulis buku berjudul "Etika Bumi Baru" mengulas banyak hal sekaitan dengan upaya merawat bumi. 

Pemilihan hutan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan sejalan dengan komitmen ketua umum panitia, William P. Sabandar, M.Eng.Sc., Ph.D. yang punya rekam jejak yang cukup panjang dalam bidang lingkungan. Ia sangat mengucap syukur kegiatan ibadah pembukaan berjalan dengan lancar dan berharap warga Gereja Toraja secara serius turut dalam upaya memelihara bumi sebagai rumah bersama. 

“Toraja ini harus dibangun dengan sebuah pendekatan yang unik. Dari sekitar 200 ribu hektar luas wilayah Tana Toraja, sekitar 100 ribu hektar lebih yang menjadi kawasan hutan, 80 hektar di antaranya adalah hutan lindung. Sementara di Toraja Utara 50 persen adalah hutan lindung. Artinya mayoritas hutan di Toraja tidak bisa ditebang karena 84 persen adalah hutan lindung. Ini merupakan hutan yang disiapkan sebagai penjaga bagi daerah yang lain. Kita kecil, tapi keberlangsungan ekosistem lingkungan di tanah Sulawesi ini sangat bergantung pada bagaimana orang Toraja merawat hutannya,” ungkap William dalam sambutannya.  

William juga mengajak seluruh pihak melibatkan diri dalam upaya menjaga hutan. Jika perlu melibatkan seluruh penjuru nusantara dan komunitas internasional. Isu hutan merupakan isu internasional. Hutan adalah salah satu aset paling berharga di dunia. Di depan kamera, ia menyampaikan ajakan dalam bahasa Inggris.

My fellow, my friends the global community. I'm standing here with the community of Toraja Church with the government, with the people of Toraja.  We would like to invite you to come to Toraja to be part of the effort to preserve to protect and sustain the forest of Toraja. We would like to be part of the effort of the global community to save the world. Please come, please enjoy and please be part of this initiative. 

Keberadaan hutan Toraja menjadi sangat penting karena luas kawasan hutan lindung yang sangat besar. Seperti diketahui, dari sekitar 120 juta hektar hutan di Indonesia hanya 25 persen yang merupakan hutan lindung. 

Baca juga Gereja Toraja Rayakan HUT ke-78 di Hutan, Bupati Tana Toraja: Keren

Lahir di awal tahun 1968 dengan nama Bulletin Gereja Toraja.

Pengunjung :

  • Hari Ini: 7

  • Minggu Ini: 68

  • Bulan Ini: 96

  • Tahun Ini: 965

  • Total Kunjungan: 11.1rb

Social Media

Copyright Tutungan Bia' © All rights reserved | This is made by Denson Patibang

  • Terms of use
  • Privacy Policy
  • Contact